HUBUNGAN
ANTARA KOMUNIKASI DALAM KELUARGA DENGAN PERKEMBANGAN ANAK
MAKALAH
DIAJUKAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU DAN
LOGIKA

STELLA
ANGELINA CHANDRA
2014-52-088
SESI
10
JURUSAN HUBUNGAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA
TAHUN 2014/2015
A. Latar Belakang
Dalam kehidupannya, manusia
senantiasa terlibat dalam aktivitas komunikasi. Manusia mungkin akan mati, atau
setidaknya sengsara manakala dikucilkan sama sekali sehingga ia tidak bisa
melakukan komunikasi dengan dunia sekelilingnya. Oleh sebab itu komunikasi
merupakan tindakan manusia yang lahir dengan penuh kesadaran, bahkan secara
aktif manusia sengaja melahirkannya karena ada maksud atau tujuan tertentu.
Memang apabila manusia
dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya seperti hewan, ia tidak akan hidup
sendiri. Seekor anak ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan sendiri.
Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Manusia tidak dikaruniai Tuhan
dengan alat-alat fisik yang cukup untuk hidup sendiri.
Dapat dikatakan bahwa di dalam
kehidupan komunikasi adalah persyaratan yang utama dalam kehidupan manusia.
Tidak ada manusia yang melepaskan hidupnya untuk berkomuikasi antar sesama.
Dengan seperti itu, komunikasi sosial sangat penting dalam kehidupan manusia
pada umumnya untuk membantunya berinteraksi dengan sesama, karena manusia
tercipta sebagai mahluk sosial.
Karena sifat manusia yang
selalu berubah-ubah hingga kini belum dapat diselidiki dan dianalisis secara tuntas
hubungan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara lebih mendalam dan
terorganisir.
Orang yang tidak pernah
berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan tersesat, karena ia tidak
sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi yang memungkin
individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai pantuan
untuk menafsirkan, situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi pula yang
memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategi-strategi adaptif untuk
mengatasi situasi-situasi problematik yang ia masuki. Tanpa melibatkan diri
dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimanamakan, minum, berbicar
sebagai manusia
dan memperlakukan manusi lain secara beradap, karena cara-cara berprilaku
tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan kluarga dan pergaulan dengan orang
lain yang intinya adalah komunikasi. Implasif adalah fungsi komunikasi sosial
ini adalah fungsi komunikasi kultural. Para ilmuan sosial mengakui bahwa budaya
dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu
mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya
komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan
Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita
perlu dan harus berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan
biologis kita seperti makan dan minum, dan memenuhi kebutuhan psikologis kita
seperti sukses dan kebahagiaan.
Komunikasi, dalam konteks apa
pun, adalah bentuk dasar adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Rene Spitz,
komunikasi (ujaran) adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam
kepribadian: “mulut sebagai rongga utama adalah jembatan antara persepsi dalam dan
persepsi luar, ia adalah tempat lahir semua persepsi luar dan model dasarnya,
ia adalah tempat transisi bagi perkembangan aktivitas internasional, bagi
munculnya kemauan dari kepasifan. Melalui komunikasi pula kita dapat memenuhi
kebutuhan emosional kita dan meningkatkan kesehatan mental kita. Kita belajar
makna cinta, kasih sayang, keintiman, simpati, rasa hormat, rasa bangga, bahkan
irihati, dan kebencian. Melalui komunikasi sosial, kita dapat mengalami
berbagai kualitas perasaan itu dan membandingkannya antara perasaan yang satu
dengan perasaan yang lainnya. Karena itu, kita tidak mungkin, kita dapat
mengenal cinta bila kita pun tidak mengenal benci. Kita tidak akan mengenal
makna pelecehan bila kita tidak mengenal makna penghormatan. Lewat umpan balik dari
orang lain kita memperoleh informasi bahwa kita orang yang berharga. Penegasan
orang lain atas diri kita membuat kita merasa nyaman dengan diri sendiri dan
percaya diri. Melalui komunikasi dengan orang lain, kita dapat memenuhi
kebutuhan emosional dan intelektual kita, dengan memupuk hubungan yang hangat
dengan orang-orang disekitar kita. Tanpa pengasuhan dna pendidikan yyang wajar,
manusia akkkan mengalami kemerosotan emosional dan intelektual. Kebutuhan
emosional dan intelektual itu kita peroleh petama-tama dari keluarga kita, lalu
dari orang-orang dekat disekeliling kita seperti kerabat dan kawan-kawan sebaya
dan barulah dari masyarakat umumnya.
Orang yang tidak memperoleh
kasih sayang dan kehangatan dari orang-orang disekelilingnya cendrung agresif.
Pada gilirannya, agresifitas ini melahirkan kekerasaan terhadap orang lain.
Stewart menunjukkan bahwa orang yang terkucil secara sosial cendrung lebih
cepat mati. Selain itu, kemampuan berkomunikasi yang buruk ternyata mempunyai
andil dalam kematian seseorang. Misalnya, Kaisar Frederick II, penguasa romawi
abad ke-13, membuat percobaan dengan memasukkan sejumlah bayi ke labotarium.
Anak-anak itu dimandikan dan disusui oleh ibu-ibu, namun bayi-bayi itu tidak
diajak berbicara. Ia ingin mengetahui apakah bayi-bayi itu akan berbicara dalam
bahasa Hebrew, atau Yunani, atau Latin, atau Arab, atau bahasa orang yang telah
melahirkan mereka. Upaya tersebut sia-sia karena sebuah bayi itu mati. Mereka
tidak dapat hidup dalam belaian, wajah riang, dan kata-kata sayang dari ibu angkat mereka.
Sementara Eric Berne mengembangkan suatu teori hubungan sosial yang ia sebut
Transactional Analysis (1961). Terinya berdasarkan hasil penelitian mengenai
keterlantaran indrawi (sensory deprivation) yang menunjukan bahwa bayi-bayi
yang kekurangan belaian dan hubungan manusiawi yang normal menunjukan
tanda-tanda kemerosotan fisik dan mental yang bisa berakibat fatal. Ia
menyimpulkan bahwa senthan emosional dan indrawi itu penting bagi kelangsungan
hidup manusia. ia menyimpulkan teorinya dengan ungkapan “If you are not
stroked, your spinal cord will shrivel up” (Jika engkau tidak mendapatkan
belaian, urat saraf tulang belakang mu akan layu). Menutut Berne, dalam arti
luas, belaian mengisyaratkan pengakuan atas kehadiran orang lain. Karena itu,
belaian dapat digunakan sebagai unit dasar tindakan sosial.
Tidak bisa disangkal,
berbicara adalah salah satu keahlian manusia yang sudah dilatih sejak usia
balita. Tapi, walaupun terus saja sepanjang hidupnya manusia berbicara, dapat
dibedakan antara orang yang “bisa” berbicara dan orang yang “tidak bisa”
berbicara. Bisa jadi suara dan kalimat yang muncul dari mulut kita bukan lah
sesuatu yang seharusnya, atau bukan suatu yang bermakna, atau tidak ada isinya,
atau tidak ada manfaatnya, atau tidak bisa digunakan untuk mengambil manfaat,
dan seterusnya. Bahkan peribahasa mengatakan, pedang yang paling tajam adalah
lidah kita. Ada beberapa hal yang kita selalu ingat dalam hal seni berbicara,
yaitu antusiasme, bertanya, dan diam.
B.
Masalah
Adakah hubungan antara komunikasi dalam
keluarga dengan perkembangan sikap anak?
I.
Komunikasi
Dalam Keluarga :
-.
Pengertian Komunikasi
-.
Pengertian Keluarga
-.
Berbagai Jenis Komunikasi
-. Prinsip-prinsip
Komunikasi Dalam Keluarga
-.
Faktor-faktor Komunikasi Dalam Keluarga
II.
Perkembangan
Sikap Anak :
-.
Pengertian Perkembangan
-.
Pengertian Anak
-.
Pendidikan Anak
-.
Ciri-ciri Anak yang Berkembang
-. Tahap
Perkembangan Anak
C.
Kerangka
Teori
Komunikasi Dalam
Keluarga

1. Pengertian
Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses
penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan)
dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara
lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak
ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan
dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut
komunikasi nonverbal.
2. Pengertian
Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat
dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan
serta mempertahankan suatu kebudayaan.
3. Berbagai
Jenis Komunikasi
·
Komunikasi intrapersonal
Komunikasi dengan diri sendiri. Seorang individu menjadi sender dan juga
sekaligus menjadi receivernya.
·
Komunikasi interpersonal
Ada lawan bicara dalam proses komunikasi kita, komunikasi yang dilakukan
untuk mendapat feedback dari orang tersebut. Komunikasi itu dapat dilakukan
baik secara langsung maupun tidak langsung.
·
Komunikasi
kelompok
Menurut Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005), komunikasi kelompok
adalah “Interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan
yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan
masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi
anggota-anggota yang lain secara tepat.”.
·
Komunikasi
organisasi Ahli
komunikasi Devito mendefinisikan komunikasi yang satu ini sebagai upaya
pengiriman dan penerimaan pesan baik dalam organisasi dikelompok formal maupun
informal.
·
Komunikasi
massa Merupakan
suatu bentuk komunikasi dengan melibatkan khalayak luas yang biasanya
menggunakan teknologi media massa seperti, surat kabar, majalah, radio, dan
televisi.
·
Komunikasi
antar budaya
Komunikasi antarbudaya menurut Charley H. Dood, meliputi komunikasi yang
melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan
kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang
mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.
4. Prinsip-prinsip Komunikasi Dalam
keluarga
a. Perkataan yang benar / lurus
Komunikasi yang baik tidak dinilai dari tinggi rendahnya jabatan atau
pangkat seseorang, tetapi ia dinilai dari perkataan seseorang cukup banyak
orang yang gagal berkomunikasi dengan baik kepda orang lain disebabkan
mempergunakan perkataan yang keliru dan berpotensi merendahkan orang lain.
b.
Perkataan jujur
Berkata benar berarti berkata jujur, apa adanya, jauh dari kebohongan orang
yang jujur adalah orang yang dapat dipercaya setiap perkataan yang keluar dari
mulutnya selalu mengandung kebenaran. Dalam kehidupan keluarga, masalah
berkata benar ini penting apalagi dalam konteks pendidikan anak. Berbicara
kepada orang lain harus benar katakan yang benar itu benar dan yang salah itu
salah.
c. Berkata yang baik / pantas
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah. Kita diajarkan memberi orang lain yang minta sedekah
disertai dengan perkataan yang baik, bukan diiringi dengan perkataan kasar
sebab perkataan yang kasar dapat menyakiti perasaan orang lain.
d. Berkata yang bermanfaat / mengena jiwa
Komunikasi seperti ini hanya terjadi bila komunikasi yang berlangsung itu
efektif mengenai sasaran. Artinya apa yang dikomunikasikan itu secara terus
terang, tidak bertele-tele sehingga tepat mengenai sasaran yang dituju.
e. Berkata yang lemah lembut
Dalam keluarga orang tua sebaiknya berkomunikasi pada anak dengan cara
lemah lembut, jauh dari kekerasan dan permusuhan. Dengan menggunakan komunikasi
yang lemah lembut, selain ada perasaan bersahabat yang masuk ke dalam hati anak
f. Perkataan
yang pantas
Dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan dianjurkan untuk mempergunakan
bahasa yang mudah ringkas, dan tepat sehingga mudah dicerna dan dimengerti.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Terjadinya Komunikasi Dalam Keluarga
-. Latar belakang
budaya
Interpretasi suatu pesan akan terbentuk
dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar
belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin
efektif.
-. Ikatan kelompok atau group Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi cara mengamati pesan.
-. Harapan Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan.
-. Pendidikan Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam menyikapi isi pesan yang disampaikan.
-. Situasi Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.
Perkembangan Anak

1. Pengertian
Perkembangan
Biologi perkembangan
ialah studi proses pertumbuhan dan perkembangan organisme. Biologi perkembangan
modern mempelajari kontrol genetik pertumbuhan sel,
diferensiasi sel
dan morfogenesis, yang merupakan proses
yang menimbulkan jaringan,
organ
dan anatomi.
2. Pengertian
Anak
Anak adalah seorang lelaki
atau perempuan
yang belum dewasa
atau belum mengalami masa pubertas.
Anak juga merupakan
keturunan
kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang
tua,
orang dewasa
adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. Menurut psikologi,
anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima
atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode pra sekolah,
kemudian berkembang setara dengan tahun sekolah dasar. Berdasarkan UU Peradilan
Anak, Anak dalam UU No.3 tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang
berbunyi: “Anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur
8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun (delapan belas) tahun dan
belum pernah menikah.”
3. Pendidikan
Anak
Pendidikan adalah
pembelajaran pengetahuan, keterampilan,
dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga
memungkinkan secara otodidak. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti
prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi,
universitas atau magang. Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi
itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari
sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik
dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi
mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari
lebih berarti daripada pendidikan
formal. Seperti kata Mark
Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu
pendidikan saya.”
4. Ciri-ciri
Anak yang Berkembang
a.
Mencari identitas diri
Dalam usaha mencari identitas diri, remaja sering menentang kemapanan karena dirasa menghalangi kebebasannya. Meskipun cara berpikirnya belum dewasa namun remaja tidak mau dikatakan sebagai anak-anak. Remaja sering melakukan hal coba-coba karena rasa ingin tahu yang sangat besar.
b. Mulai tertarik kepada lawan jenis
Masa remaja adalah masa persiapan menuju dewasa. Wajar bila remaja mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis. Namun demikian pernikahan pada usia remaja belum diperbolehkan karena secara mental belum siap. Kehamilan pada usia remaja dapat berpengaruh negatif baik pada diri maupun bayi yang dikandungnya.
Dalam usaha mencari identitas diri, remaja sering menentang kemapanan karena dirasa menghalangi kebebasannya. Meskipun cara berpikirnya belum dewasa namun remaja tidak mau dikatakan sebagai anak-anak. Remaja sering melakukan hal coba-coba karena rasa ingin tahu yang sangat besar.
b. Mulai tertarik kepada lawan jenis
Masa remaja adalah masa persiapan menuju dewasa. Wajar bila remaja mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis. Namun demikian pernikahan pada usia remaja belum diperbolehkan karena secara mental belum siap. Kehamilan pada usia remaja dapat berpengaruh negatif baik pada diri maupun bayi yang dikandungnya.
5. Tahap
Perkembangan Anak
-. Masa Prenatal, yaitu diawali dari
masa konsepsi sampai masa lahir.
-. Masa Bayi dan Tatih, yaitu saat
usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan
pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun
merupakan masa tatih. Saat tatih inilah, anak-anak menuju pada penguasaan
bahasa dan motorik serta kemandirian.
-. Masa kanak-kanak pertama, yaitu
rentang usia 3-6 tahun, masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah.
-. Masa kanak-kanak kedua, yaitu
usia 6-12 tahun, dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak telah mampu
menerima pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada di lingkungannya.
-. Masa remaja, yaitu rentang usia
12-18 tahun. Saat anak mencari identitas dirinya dan banyak menghabiskan
waktunya dengan teman sebayanya serta berupaya lepas dari kungkungan orang tua.
D.
Kerangka
Berfikir
Keluarga
adalah sebagai suatu sistem yang terdiri atas individu-individu yang
berinteraksi dan saling bersosialisasi dan mengatur. Keluarga merupakan tempat
dimana sebagian besar dari kita mempelajari komunikasi, bahkan bisa dikatakan
tempat dimana sebagian besar dari kita belajar bagaimana kita berpikir mengenai
komunikasi. Definisi ini menekankan hubungan-hubungan interpersonal yang saling
terkait antara para anggota keluarga, walau hanya berdasarkan pada ikatan darah
atau kontrak-kontrak yang sah sebagai dasar bagi sebuah keluarga (Brommel, 1986).
Bentuk –
bentuk komunikasi dalam keluarga menurut Pratikto (dalam Prasetyo, 2000), salah
satunya adalah komunikasi orangtua dengan anak. Komunikasi yang terjalin antara
orang tua dan anak dalam satu ikatan keluarga di mana orang tua bertanggung
jawab dalam mendidik anak. Hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak di
sini bersifat dua arah, disertai dengan pemahaman bersama terhadap sesuatu hal
di mana antara orang tua dan anak berhak menyampaikan pendapat, pikiran,
informasi atau nasehat.
Hubungan
interpersonal antara orangtua dan anak muncul melalui transformasi nilai-nilai.
Transformasi nilai dilakukan dalam bentuk sosialisasi. Pada proses sosialisasi
di masa kanak-kanak orangtua adalah membentuk kepribadian anak-anaknya dengan
menanamkan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua. Hal yang dilakukan orangtua
pada anak di masa awal pertumbuhannya sangat mempengaruhi berbagai aspek
psikologis anak-anak.
Keluarga
merupakan wadah dalam hubungan interpersonal antara orangtua dan anak yang
membawa suatu proses aktivitas transformasi nilai yang terkait dengan
perkembangan anak. Hubungan interpersonal muncul dalam bentuk komunikasi
keluarga antara orangtua dan anak. Hubungan interpersonal dalam keluarga
dikembangkan dalam tahapan hubungan interpersonal untuk mencapai tujuan
komunikasi keluarga.
E.
Hipotesis
Ada hubungan antara komunikasi
dalam keluarga dengan perkembangan anak.
F.
Daftar Pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri, 2004. Pola Komunikasi
Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga, Jakarta : Rineka Cipta.
M. Yusuf, Pawit, 2009. Ilmu Informasi Komunikasi
dan Kepustakaan, jakarta : bumi Aksara.
http://wikipedia.org/